Kamis, 05 April 2012

KUMPULAN ARTIKEL TAMBANG

TUTORIAL SURPAC BAG 1

Pengukuran Vol. utk solid
à digunakan utk peghitungan volume hasil pemboran
Menu solid diaktifkan
Triangulate à between segment à apply
Triangulate à inside segment (utk menutup ruang kosong di bag. atas & bawah)
Validation à apply à lihat file *.not
Volumes à report volumes solids à apply à lihat file *.not (baca volume)

Mine Design
Data yang dibthkan :
- Besarnya slope
- Tinggi jenjang
- Lebar jenjang
- Dimensi ramp
1. Menu Mine Design diaktifkan
2. Pit Design à select slope method
- Design slope à slope disemua posisi besarnya sama
- Slope strings à slope disalah satu posisi berbeda
3. Tentukan besarnya slope yang diinginkan
4. Pit Design à New Ramp
Tentukan dimana ramp itu akan dibuat (lebarnya,dab) à apply
Isi table yang muncul à apply
5. Expand Segment à By bench Height à utk tinggi bench à tentukan sisi
bench yg akan diperluas à apply.
Expand Segment à By berm Width à utk lebar bench à tentukan sisi
terluar dari bench yg akan diperluas à apply.
Untuk merubah arah jalan :
1. Yang dirubah/didesain adalah berm-nya
2. Ramp properties sbelumnya dihilangkan dan harus dibuat properties utk new ramp

Perhitungan Volume (Net Volume) à utk perhitungan volume total
1. Buat original surface dlm btk *.DTM
2. Buat design tambang dlm btk *.DTM
3. Buat pit boundary/limit dari bentuk *str, dimana :
- Kurva harus tertutup
- Arah kurva clockwise
4. Klik volumes à Net volumes between DTM’s
5. Isi kolom dengan :
- Define first DTM à original surface
- Define second DTM’s à design tambang
- Isi location dengan à pit boundary
6. Isi nama file yang diinginkan
7. Apply 2x à muncul file dlm bentuk *.not
Perhitungan Volume à berdasarkan elevasi
1. Utk no.1 s/d 3 sama dengan diatas
4. Buka file pit boundary/limit à pilih koordinat yang akan diukur/section ( x & y )
5. Surface à DTM file function à create sections from DTM
6. Isi kolom yang ada :
- Define first DTM à original surface
- Define second DTM’s à design tambang
- Pit Boundary/limit
- Define the file to create (isi nama file yg diinginkan)
7. Buka file section yang baru saja dibuat pd no.6
8. Volumes à by elevation from sections
9. Isi kolom yg ada :
- Location à file section pd no. 6
- Range à dr ttk terendak, tertinggi, jarak per section

Membuat hasil pemboran
1. Buat file di Excell dgn sheet:
- Database pemboran
- Collar : Hole ID, X;Y;Z, Max Depth, remark 1, remark 2
- Survey : Hole ID’ Depth, Dip, Azimuth
- Geologi : Hole ID, sample ID, Depth from, Depth to, thickness, app.dip, rock type, coal seam, remark
- Sample: Hole ID, sample ID, Depth from, Depth to, thickness, app.dip,
rock type, coal seam, Data coal quality (TM, IM, CV, etc)
2. Masing-masing sheet disave dgn *.csv
3. Surpac à menu Database
4. Database à open/new
- Database type à acess à calculated
5. Tambahkan table dgn geologi & sample
6. Tambahkan kolom agar sama dgn masing-masing kolom pada file *.csv
!!! TABEL HARUS SAMA !!!
7. Isi type dengan :
- character à huruf
- real à angka
8. Database à import data à masukan masing-masing file *.csv
9. Lihat hasilnya pada à *.log
Jika no overlapping maka data sdh benar
10. Untuk menampilkan batang bor
Display à drillhole display styles à isi warna utk coal seam
11. Display drillhole à isi masing-masing table di ‘geologi’à klik kanan à get field codes
12. Extract à zone thickness & depth à isi kolom
13. Display à drillhole
14. Display à recallà display à string & points (drawing method à line/marker)
Untuk mengetahui besarnya dip :
1. Dari drillholes bentuk garis/string à surface à create DTM from layer à save
2. Contouring à contour DTM file à jd file *.str
3. Buka file *.str shg bisa dilihat bsrnya dip dari batubara

Membuat SR-Countour
1. Suraces à advances àmaths between DTM’s
2. Masukkan expresions
((a-b)/(b-c)) + 0,001)
dimana:
a – DTM topo
b – DTM roof coal
c – DTM floor coal

Menurunkan elevasi topografi
File tools à string maths
Isi file yang akan dirubah, file yang baru dan isi field dgn Z, serta expresion (rumus, mis : z – 3) yg artinya seluruh elevasi dikurangi 3 meter.

Membuat intersection (boundary) scr spt
Surface à clip or intersect à line intersections between DTM’s

Cara meng-expand pit pada bagian tertentu
1. Buka peta design pit lalu dipotong bagian yang akan di expand
2. Ganti no.string utk bagian yang akan di expand lalu save
3. Hilangkan/hapus string yang baru dan save design pit yang baru
4. Buka file *.str (no.2) yang baru dan mulai diexpand sesuai keinginan (string yang tdk perlu dpt dibuang)
5. Lalu save string yg sdh diedit/expand
6. Buat file *.DTM utk design yang sudah di expand (no.5)
7. Buat intersection dari peta topo dan file *.DTM dari no.6
Surface à DTM file function à line intersection between 2 DTM
8. Rapikan hasil intersection (boundary) à save
9. Buka file *.str yg sdh diexpand dan file hsl intersection serta rapikan (garis yg keluar dr boundary diedit)à save
10. Buka layer baru dgn isi dan digabung:
- Design pit yang baru (no.3)
- Design bench yang sdh diexpand (no.5)
- Boundary pit yang baru (no.8)
11. Samakan stringnya, lalu hubungkan design pit dgn design bench yg sdh di expand à save ke *.DTM
12. Buka file pit awal (*.DTM) dan file *.DTM (no.11)
13. Buat section
View à viewing planes à cutting planes (pair)
14. Design yg baru, string-nya dirubah
Cara membuat data Geologi s/d Mine Design
1. Setelah file drill hole terbentuk dalam *.str
2. Buat grs Bantu diatas dan dibawah sesuai dengan dip masing-msing hole (utk top dan bottom coal)
3. Buat file *.dtm dari no.2
4. Buat kontur struktur coal (ks)
à countouring à countour DTM file
5. Buat cropline
à surfaces à DTM file functions à line of intersections between 2 DTM’s
File : - Topo (DTM)
- Kontur Struktur (DTM)
6. Buat design tambang dgn elevasi floor (trial & error)
7. Buat boundary pit à intersect topo dgn design tambang
8. Hubungkan boundary pit sesuai nomer lalu di trim dengan design yang
ada.
9. Hitung volume OB dgn metode Net Volume
10. Buat floor coal dengan cara intersect design (DTM) dgn floor/roof (DTM)
11. Buat roof coal (cropsline) dengan cara intersect topo dgn model coal
12. Gabung antara no.10 dan 11 dan sambungkan sesuai nomer à boundary coal
13. Hitung volume coal (luas boundary coal dikalikan dgn tebal coal dari laporan pemboran) à perhitungkan kasar, lalu hitung pula SR-nya
14. Buat file di Excell utk perhitungan volume
15. Hitung volume OB per section tiap zona (buat penampang OB per zoneà *.str)
File :
- Topo (DTM)
- Design (DTM)
- Boundary Pit (str)
Tentukan : x, y1 dan y2
16. Buat penampang coal per zone per seam (cara sama dgn no.14)
File :
- Roof coal (DTM)
- Floor coal (DTM)
- Boundary coal (str)
Tentukan : x, y1 dan y2

CONCOLIDATION TEST (+6281213288147)

Tanah merupakan suatu material yang berpori besar sehingga mempunyai kesempatan yang besar untuk terjadi pemampatan dan deformasi elastis maupun plastis.
Deformasi elastis adalah pemampatan tanah yang terjadi dimana tanah akan kembali kebentuk semula apabila beban yang bekerja kepanya ditiadakan.
Untuk mencapai deformasi yang tetap (untuk tanah dengan deformasi yang kecil, lempung misalnya) diperlukan waktu yang cukup lama. Gejala yang demikian disebut dengan konsolidasi. Konsolidasi mengakibatkan antara lain :
 Perubahan isi serta keluarnya air pori (angka pori mengecil).
 Perubahan susunan butir tanah/susunannya menjadi teratur.

HUBUNGAN ANTARA WAKTU DENGAN PENURUNAN
Menurut Terzaghi, derajat konsolidasi berbanding lurus dengan waktu, yaitu :
U = F(Tv)
Dimana :
U = Derajat konsolidasi
Tv = Faktor waktu
H = Jalan air terpanjang tanah yang berkonsolidasi
Cv = koefisien konsolidasi
T = waktu yang diperlukan
Derajat konsolidasi adalah perbandingan antara perununan dalam waktu (t) dengan penurunan setelah selesai konsolidasi (t = ~ )
 Penurunan dalam waktu t = U
 Penurunan setelah selesai t = ~
Untuk menghitung factor waktu (Tv) gunakan rumus:
Jika U < 60 % Jika U > 60 %
Misalnya U = 40 % U2 = 4/6 . Tv
0,4 = 4/ 6. Tv
Tv = 0,126
Jadi kalau U = 40 % maka Yv = 0,126
Analog pada perhitungan diatas didapat :
U % 20 40 60 80 90
Tv 0,131 0,126 0,287 0,567 0,484
Jika ingin menghitung waktu yang diperlukan hingga turun mencapai 90 % dari penurunan seluruhnya, maka U = 90 %



Secara keseluruhan konsolidasi terdiri dari dua bagian, yaitu :
1. Primary Consolidation
Penurunan yang terjadi karena air yang keluar dari dalam pori
2. Secondary Consolidation
Penurunan yang terjadi karena adanya penyesuaian diri antar butiran tanah, dan berlangsung dalam waktu yang lama serta nilainya kecil. Penurunan ini berjalan terus setelah Primary Consolidation selesai.



Besarnya penurunan yang terjadi dapat dihitung dengan rumus :

Dimana :
S = besarnya penurunan
Cc = koefisien kompressi
eo = angka pori
Po = beban awal
P = tambahan beban
HUBUNGAN ANTARA TEKANAN DAN ANGKA PORI
Pre (Over) Consolidation
Pre (Over) Consolidation adalah suatu kondisi dimana lapisan tanah dulunya pernah mengalami beban/ tekanan lebih besar dari sekarang.
Normally Consolidation
Normally Consolidation adalah suatu kondisi lapisan tanah yang belum pernah menerima beban.
Menurut Terzaghi besarnya perubahan angka pori akibat adanya tekanan dapat ditentukan sebagai berikut :
eo – e1 = Cc (log P – log Po)
e = Cc. Log P/ Po
Dimana :
e = perubahan angka pori
Cc = koefisien kom[resi
P = beban akhir
Po = beban awal

Besarnya nilai koefisien kompresi (Cc) pada rumus diatas dapat ditentukan dari rumus :
Cc = 0,009 (LL – 10)
Dimana :
LL = batas cair (%)
MAKSUD PERCOBAAN
Maksud percobaan ini adalah untuk mengetahui:
 Besarnya penurunan
 Kecepatan penurunan
Dari percobaan ini akan didapat:
Cc = Compression index, ialah angka yang menentukan kemampuan contoh tanah untuk mengalami pemampatan yang dipakai untuk menghitung penurunan.
Cv = Koefisien konsolidation, ialah angka yang menentukan kemampuan contoh tanah untuk mengalami penekanan. Dipakaki untuk untuk menghitung waktu yang diperlukan untuk mengalami penurunan.


ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN
1. Satu unit konsolidometer, yang meliputi:
 Tempat contoh tanah
 Batu pori atas dan bawah
 Arloji pengukur perubahan tebal contoh
2. Perlengkapan beban
3. Spatula
4. Stopwatch
5. Jangka sorong
6. Peraltan pengukur kadar air


PERSIAPAN BENDA UJI
1. Contoh tanah dikeluarkan dari tabung contoh, masukkan contoh tanah ini kedalam cincin dengan cara menekan ke dalam contoh tanah tersebut, kemudian dipotong rata bagian atas dan bawah cincin.
2. Permukan tanah ini harus rata/halus, bila perlu tambal lubang-lubang yang terjadi.
3. Melaui bagian bawah cincin, tanah didorong keatas dengan besi silinder yang tersedia.
4. Contoh tanah dimasukkan kedalam silinder konsolidometer. Masukkan berturu-turut:
 Batu pori tanah
 Kertas saring
 Cincin + benda uji
 Pelat perata beban


PERSIAPAN ALAT
1. Alat konsolidometer diperiksa bahwa bekerja dengan baik. Yakinkan bahwa lengan telah ditimbang.
2. Arloji pengukur penurunan diperiksa, siapkan beban dan stopwatch.


PELAKSANAAN PERCOBAAN
1. Sel konsolidasi ditempatkan yang sudah berisi contoh pada rangka pembebanan.
2. Penekan beban diatas benda uji diatur, kemudian arloji diatur pada pembacaan nol.
3. Stopwatch disiapkan dan beban awal dipasang hingga tekanan pada contoh tanah sebeasr 0,25 kg/cm2.
4. Arloji pengukur diatur pada waktu 5,4” , 15”, 29”, dan 40”, kemudian 1’,2.25’, 4’,6.25’,9’,12.25’,16,25’,36’,49’,64’,81’,100’,121’,144’,225’, dan 1440’.
5. Pada konsolidasi disiapkan air segera setelah beban bekerja.
6. Setelah pembacaan 1440’, beban ditambahkan hinga tekanan pada contoh tanah menjadi 0,50 kg/cm2, selanjutnya lakukan langkah 4.
7. Lanjutkan setiap kali penambahan hingga tekanan kembali pada 0,25 kg/cm2. masing-masing tahap beban dibiarkan selama 24 jam (1440 menit) lalu lakukan langkah 4 kecuali beban terakhir yaitu 0,25 kg/cm2. lakukan pembacaan setelah 4 jam.
8. Setelah semua pemabacaan selesai, contoh tanah dikeluarkan dari konsolidometer, kemudian periksa kadar air dan derajat kekenyalannya.

Proses Sedimentasi

Proses Sedimentasi

Sungai adalah jalur aliran air di atas permukaan bumi yang di samping mengalirkan air juga mengangkut sedimen yang terkandung dalam air sungai tersebut. Jadi sedimen terbawa hanyut oleh aliran air, yang dapat dibedakan sebagai muatan dasar (bedload) dan muatan melayang (suspendedload).
• Asal dan proses pembentukan sedimen
Proses sedimentasi meliputi proses erosi, transportasi (angkutan), pengendapan (deposition). Proses tersebut berjalan sangat kompleks, dimulai dari jatuhnya hujan yang menghasilkan energi kinetic yang merupakan permulaan dari proses erosi. Begitu tanah menjadi partikel halus, lalu menggelinding bersama aliran, sebagian akan tertinggal di atas tanah sedangkan sebagian lagi masuk ke dalam sungai terbawa aliran menjadi angkutan sedimen. Bentuk, ukuran dan beratnya partikel tanah tersebut akan menentukan jumlah dan besarnya angkutan sedimen. Kemampuan tanah itu untuk terkikis tidak hanya tergantung pada ukuran particle-partikelnya tetapi juga pada sifat fisik bahan organic dan anorganik yang terikat bersama-sama partikel tersebut (Hadi, 2004).
• Muatan Sedimen Dasar
Partikel-partikel kasar yang bergerak sepanjang dasar sungai secara keseluruhan disebut dengan muatan sedimen dasar.Gerakan tersebut bisa bergeser, menggelinding atau meloncat-loncat, akan tetapi tidak pernah lepas dari dasar sungai.

Di bagian hulu sungai, muatan sedimen dasar umumnya merupakan bagian terbesar dari seluruh jumlah angkutan sedimen. Kualitas dan kuantitas material yang terbawa oleh aliran sepanjang dasar sungai tergantung dari penyebaran erosi di daerah pegunungan dan juga tergantung dari derajat kemiringan lereng, struktur geologi dan vegetasi.

Pengambilan bed load lebih sulit jika dibandingkan dengan pengambilan suspended load karena :

(1) Partikel-partikelnya bergerak tidak secepat aliran.

(2) Karena bentuk dasar sungai akan mempengaruhi terjadinya variasi dalam besarnya pengangkutan sedimen.

(3) Setiap alat yang ditempatkan pada atau di dekat dasar sungai akan merubah kondisi aliran yang mengakibatkan pengukuran beban tidak betul.

(4) Jika alat ditempatkan di daerah loncatan (saltation zone) beberapa contoh yang diperoleh merupakan suspended material.
Beberapa persamaan untuk memperkirakan muatan sedimen dasar pada umumnya dikembangkan dari penyelidikan di laboratorium dengan skala kecil. Umumnya rumus yang digunakan adalah persamaan Meyer – Peter dan persamaan Einstein.

• Formula Meyer – Peter dan Muller (1948)
Rumus pengangkutan Meyer-Peter dan Muller, awalnya dikembangkan pada tahun 1948, dirancang untuk fine baik diurutkan kerikil pada tahap pengangkutan.

• Formula Einstein
Einstein menetapkan persamaan muatan dasar sebagai persamaan yang menghubungkan material dasar dengan pengaliran setempat (local flow). Persamaan itu menggambarkan keadaan seimbang daripada pertukaran butiran dasar antara lapisan dasar (bed layer) dan dasarnya. Einstein menggunakan D= D35 untuk parameter angkutan, sedangkan untuk kekasaran digunakan D = D65. Hubungan antara kemungkinan butiran akan terangkut dengan intensitas ang kutan dasar dijabarkan sebagai berikut :

Qb = ( φ ( g. Δ . D353)1/2 ).B
φ = 0.044638 + (0.36249.Ψ‘) – (0.226795. Ψ2) + (0.036. Ψ3)
Ψ = ( μ . R. I ) / ( Δ. D35 )
τ = ρw. g. R. I
μ = ( C/C‘ )3/2
C‘ = 18 log ( 12R / D65 )
C = V / ( R. I )1/2
Keterangan:
A = Luas penampang basah ( m2 )
P = Keliling basah ( m )
R = Jari – jari hidroulis (A/P)
V = Kecepatan ( m/dt )
Q = Debit ( m3/dt ) → V. A

foto cable Barch